Sabtu siang, saya bersama rombongan dari kendal yang terdiri dari saya, Taufiq, Risa, Jaza, Anwar, Adit, Ony, Lukman berangkat menuju Dieng. Kira-kira kami memulai perjalanan jam 2 siang. Kali ini rute yang akan kami lalui adalah dari Kendal-Weleri-Candiroto-Kebun Teh Tambi-Dieng. Sepanjang jalan dari weleri menuju Candiroto jalannya selalu naik. Sampailah kami ke jalan masuk kebun teh Tambi. Kalo dari arah bawah ada tikungan ke kiri, kita ambil yang lurus, karena kalau kita belok ke kiri itu arah Parakan. Sepanjang jalan menuju Kebun Teh Tambi, banyak tanaman tembakau . Ya tidak heran saya, karena memang tembakau Temanggung memang sudah dikenal dunia dengan Tembakau Srintilnya. Saat itu sudah memasuki waktu Ashar jadi kami berhenti di sebuah masjid di pinggir jalan. Bagi kalian yang sering lewat sini tentu tahu masjid yang saya maksud, hehe.

istirahat Sholat di masjid arah Tambi

Sebenarnya ini pertama kali saya lewat jalur Tambi. Biasanya saya lewat jalur Wonoboyo-Kejajar. Nah setelah sholat kami melanjutkan perjalanan. Sampailah kami di gapura masuk Kebun teh Tambi. Kebun teh ini sudah masuk ke wilayah Wonosobo dan adalah salah satu Basecamp dari pendakian Gunung Sindoro. Oh iya, sebagian jalan disini agak rusak ya kawan jadi jangan kaget kalau lewat sini. Keluar dari Kebun Teh Tambi, kami memasuki Kejajar. Dan, kami berhenti di Indomaret untuk membeli logistik karena rencanaya kami akan ngecamp di Sikunir. Saat itu sudah agak sore dan ada kabut.

Setengah jam kemudian, kami sampai di gapura selamat datang Dieng Plateu. Saya melihat banyak sekali orang yang juga ingin menghadiri acara Dieng Culture Festival ini. kami berhenti sejenak buat berfoto, haha. Perjalanan dilanjut dan ketika kami di kawasan dieng terjadi kemacetan dan jalannya dibuat satu arah .

Sampailah kami di Sikunir. Jadi Sikunir itu masuk di kawasan Desa Sembungan, yang amsuk woilayah Wonosobo. Disana ada satu masjid agak besar dan banyak homestay kok jadi tenag saja bagi kalian yang gak punya tenda dan gak ingin ngecamp bisa sewa homestay. Eh tapi di Basecap Sikunir juga menyediakan penyewaan tenda dan perlengkapan lainnya. Berikut tiket masuknya adalah tiap orang 10 ribu dan parkir motor 5 ribu. Kemudian biaya pertenda adalah 10 ribu. Karena kami delapan orang jadi total biayanya adalah 120 ribu, yah lumayanlah. Kami sholat maghrib dan mendirikan tenda. Wah udara disana dingin banget, entah tapi berapa derajat celcius soalnya kan gak bawa termometer, wkwk.

Jam 9 malam kami keluar dari Sikunir untuk menuju ke acara Dieng Culture Festival. Antusias masyarakat sekitar dan para peserta sangat tinggi. Malam itu Dieng sedang berpesta. Kami melihat lampion yang banyak sekali. Sungguh indah pemandangan malam itu. Tak hanya lampion, ada hiburan musik juga. Tapi bukan jazz atas awan ya, karean jazz atas awan kan sudah kemarin pas malam sabtu. Seandainya saja kami tiba di Dieng sejak Jumat pasti nonton Jazz atas awan. Puas menimati lampion dari kejauhan, kami putuskan kembali ke Sikunir. Kami gak bisa mendekat, ya maklum kan bukan peserta resmi, hehehe jadi ya menikmati dari jauh saja sudah indah kok.

Jam 10 malam kami kembali ke Sikunir. Ah badan sudah capek karena gendong carrier dan mata sudah ngantuk ya jadi saya langsung tidur, hehe. Biarin lah temen saya Ony , Jaza, Adit gak tidur, saya pengen tidur kok. Malam itu saya tidur pulas sekali karena saya bawa SB Eiger yang manta pokoknya haha. Sekalipun tenda di pinggir saya sangat ramai saya tidak terganggu, malah si Risa yang gak bisa tidur katanya, haha. Kebetulan tenda sebelah saya adalah turis dari China. Entah mereka ngomong apa saya juga tidak tahu.Ya situasinya kayak dengar berita di Metro Xinwen haha.

Paginya sekitar jam 5 saya Taufiq dan Risa naik ke bukit Sikunir untuk melihat pemandangan Sunrise. Gak di Dieng gak di Sikunir, ramainya masyaallah. Niatnya pengen running eh gak jadi karena tangganya agak macet. Haha, saya terinspirasi sama runner ketika kami bertemnu di Gunung Lawu. Wah ternyata nafas saya ngos-ngosan kawan, wkwk. Maklum jarang olahraga.

Sunrise di Sikunir

Pemandangan yang akan kalian lihat di Sikunir adalah Golden Sunrise dan Gunung Sindoro yang sangat Indah. Tapi itu semua adalah jika kalian beruntung karena terkadang cuaca tidak medukung jadi kadang gak kelihatan Sunrisenya, hehe. Setelah puas berfoto, sekitar jam 9 pagi kami turun menuju tenda. Sat turun saya berjumpa dengan turis dari Singapore, dia sudah ibu-ibu tapi gak bisa bahasa Melayu nah jadilah saya mengunakan Bahasa Inggris seadanya, itung-itung mengamalkan ilmu hehe. Maklum lah agak kurang lancar, hehehe. Darri ceritanya, dia itu bersama teman yang dari Jakarta sudah dua hari di Dieng. Tak hanya turis dari Singapore, saya juga bertemu Pak Ganjar, itu lho Gubernur Jawa Tengah. Beliau bersama rombongan pesepeda. Just share info ya, Pak ganjar ini suka naik sepeda, ya sama lah kayak saya, wkwk. Tapi beliau suka naik roadbike dan saya mtb. Sampailah di tenda, dan kami masak mi rebus untuk sarapan.

Pak Ganjar Pranowo

Jam 10 setelah kami packing barang dan membersihkan sampaha kami meninggalkan Sikunir. Tak lupa kami juga berfoto dengan background telaga Cebongan. Saat memasuki kawasan acara Dieng Culture Festival, saya melihat masyarakat sekitar yang mulai berdatangan ke acar prosesi pemotongan rambut Gimbal. Ya jadi itu adalah hari terkahir acara Dieng Cultre Festival. Saya ingin sekali menonton prosesi tersebut, nnamun karena sorenya ada acra jadi terpaksa harus pulang siang itu juga. Ah mungkin ini adalah alasan bagi saya untuk kemballi ke Dieng Culture Festival tahun depan, haha. Ini adalah cerita pengalaman saya ketika di Dieng Culure Festival 2017. Semoga tahun depan masih diberi rezeki dan kesehatan agar bisa berjumpa dengan Dieng Culture Festival.

foto bersama
ikon Dieng