Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 72 dengan suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, inilah yang saya rasakan tadi pagi. Jika kebanyakan orang memperingatinya dengan Upacara Pengibaran Bendera ataupun mengadakan Lomba Agustusan maka tidak bagi saya, karena saya mempeingatinya dengan Gowes trabas hutan, ya cukup antimainstream lah, hehe. Sebenarnya saya tidak ada rencana untuk melakukan gowes namun karena diajak dan tidak ada acara ya ikut saja, itung-itung refreshing haha.

Habis subuh saya langsung bersiap-siap berangkat dari Sudipayung menuju ke Pegandon bersama om Gito. Pagi-pagi sekali kami berangkat, hingga akhirnya sampailah kami di peremepatan Pegandon. Jadi ceritanya saya ikut rombongan klub mtb Pegandon yang bernama TBC, kayak nama penyakit ya, hehe tapi bukan TBC yang itu. TBC disini adalah akronim dari Trabas Bicycle Community, wow nama yang sangat keren ya.

klub TBC Pegandon Kendal

Pagi itu rencananya kami akan loading ke Sukorejo dan trabas ke hutan, mantap kan haha. Untuk menuju ke Sukorejo kami naik truk bersama sepeda masing-masing tentunya, ya iyalah kalau gak ada sepedanya mau pakai apa ntar masuk hutannya, wkwk. Tapi masalahnya, truknya datang agak terlambat jadi kami harus menunggu agak lama, yah kesiangan deh.

menaikkaan sepeda ke truk

Alhamdulillah akhrinya truk datang dan sepeda langsung dinaikkan. Perjalanan ke Sukorejo pun dimulai. Waktu yang diperlukan dari Pegandon ke Sukorejo sekitar 1 jam setengah, gak terlalu lama lah.

Sekitar jam 8 kami sampai di Sukorejo dan langsung menuju Curug Sewu. Curug Sewu adalah salah satu wisata andalan Kabupaten Kendal yang masuk wilayah kecamatan Patean. Tapi disini kami gak masuk ke wisata Curug ya, kan mau trabas. Rencananya kami akan lewat di desa sebelah timur Curug Sewu yakni desa Sidodadi yang bisa tembus ke Pegandon tepatnya di Bendungan Juwero.

Sebelum kegiatan trabas ini dimulai kami berdoa agar diberi keselamatan karena mengingat kegiatan ini adalah termasuk olahraga ekstrim yang rentan resiko kecelakaan. Tak lupa kami juga sarapan dahulu untuk mengisi asupan energi selama kegiatan trabas ini. trabas pun dimulai, satu persatu dari kami mulai mengayuh sepeda. Memasuki desa Sidodadi kami langsung disambut oleh trek jalan kampung menurun banyak bebatuannya. Di trek jalan turunan kita harus bisa menjaga keseimbangan dan mengatur jarak dengan sepeda lainnya karena jika tidak maka kita bisa bertabrakan dan jatuh. Penting juga untuk mengecek rem belakang karena disini ketahanan rem belakang diuji. Oh iya, sekalian sadel juga sebaiknya kita posisikan agak rendah, supaya badan kita bisa agak ke belakang karena kalau jalanan menurun badan kita ke depan maka kita bisa terjungkal ke depan.

Setelah meninggalkan desa Sidodadi kami menjumpai trek jalan tanah yang berongga, tentu saja itu agak menyulitkan kami. Karena saya memakai pedal dan sepatu cleat maka saya beresiko lebih besar untuk terjatuh. Benar saja, akhirnya saya sampai terjatuh 2 kali di trek ini. Tapi tidak mengapa, namanya juga main sepeda ya kadang jatuh juga, hehe.

Alhamdulillah trek tanah berongga telah terlewati dan selanjutnya kami masuk ke trek tanah yang dikelilingi tanaman jati dan kebun warga. Setidaknya medan trek disini lebih baik dari trek sebelumnya, karena saya gak jatuh hehe. Terkadang kami bernhenti sejenak untuk minum dan istirahat, karena prinsipnya yang pentiing happy jadi tidak terlalu ngoyo lah istilahnya, haha. Setelah kurang lebih satu jam di dalam hutan sampailah kami di sebuah jembatan yang sudah tidak utuh alias sudah rusak. Disini kami istirahat dan tak lupa mengambil foto, hehe.

istirahat

Trabas pun dilanjut kali ini ada tanjakan yang sangat panjang dan tinggi jadi kami memutuskan untuk menuntun sepeda. Jika pun harus mengayuh terlalu ngoyo, jadi kembali ke prinsip awal yang penting happy haha. Ternyata menuntun sepeda di jalan menanjak ataupun mengayuhnya sama-sama capek, hadeuh jadilah kami istirahat lagi dan makan bekal roti. Menurut salah satu senior, mas Guntur dan mas Tholib, sehabis trek menanjak ini kami akan memasuki trek jalur macan. Entah awalnya saya tidak tahu maksud jalur macan ini, apakah di hutan ini ada macannya, wow serem ya haha. Eh ternyata maksud jalur macan disini adalah bahwa trek yang akan dilalui hutannya masih lebat serta jalannya sangat sempit dan tentunya lebih adem.

Kami pun tiba di trek jalur macan dan mulai memasukinya. Trek di jalur macan ini kebanyakan adalah turunan . Menurut saya di trek jalur macan ini kita harus konssentrasi karena banyak sekali ranting yang ada di kiri kanan dan di atas kepala kita. Jika tidak hati-hati dan kurang konsentrasi maka ranting-ranting tersebut bisa mengenai kepala kita, meskipun kita sudah memakai helm. Bahkan di trek ini saya banyak menunduk agar terhindar dari ranting yang sangat dekat dengan kepala, pokonya keep safety kalau lewat trek macan ini. Oh iya kita juga sebaiknya memakai baju panjang supaya jika terkena ranting kita kulit tangan kita tidak tergores.

Setelah meninggalkan trek macan kami sampai di hutan jati lagi, disini salah satu sepeda dari rombongan kami ada yang bocor kemungkinan terkena duri atau ranting di trek macan tadi. Jadilah kami istirahat sebentar sambil mengganti ban. Satu lagi tips bagi kita jika ingin melakukan trabas di hutan ataupun touring, kita harus membawa peralatan lengkap baik mulai dari ban cadangan, toolkit, pompa dan alat lainnya. Ini adalah untuk berjaga-jaga karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Sehabis mengganti ban perjalanan pun dilanjut. Akhirnya sampailah kami di Bendungan Juwero. Jadi bendungan ini merupakan bendungan yang membendung kali Bodri. Bendungan ini juga menjadi pembatas desa Triharjo di sisi barat yang masuk wilayah kecamatan Gemuh dan desa Pekunceng yang masuk wilayah kecamatan Pegandon. Kami tiba di desa Pekuncen sekitar jam setengah 12. Saya sangat senang dan puas dengan kegiatan trabas kali ini karena treknya lumayan, lumayan membuat saya terjatuh hehe. Mantap pokoknya, semoga kegiatan trabas ini dapat sering dilakukan baik bersama teman-teman TBC maupun klub MTB lainnya. Yang penting silaturrahim bisa selalu terjaga dan tak lupa ”Satu Sepeda Sejuta Saudara”.