Cerita ini berkisah tenntang pengalaman saya mendaki gunung pertama kali. Ya, untuk ukuran seorang anak muda dan mahasiswa mungkin saya agak terlambat dalam mendaki gunung. Saya sudah semester 8 dan skripsi belum selesai haha, duh jadi baper. Oh iya, sebenranya gunung Sumbing sudah tidak asing bagi saya karena sejak kecil saya sudah tahu gunung ini beserta gunung Sindoro dan Gunung Prau. Ya, gunung yang sering disebut gunung kembar ini memang terlihat dari desa saya. Apalagi saat dulu masih SD sehabis olahraga saya menyempatkan untuk memandangi ke arah Selatan dan melihat Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau.

Baik saya akan mulai bercerita, hari itu Sabtu 1 April 2017 dengan penuh semangat saya mempersiapkan perlengkapan yang akan saya bawa untuk pendakian ini. Di pendakian ini, saya bersama Afrizal, Maskan, Bahtiar. Kami berangkat dari Ngalian jam 10 pagi. Rute yang kami ambil adalah Ngalian- Boja- Sumowono- Kandangan- Temanggung Kota- Parakan- Wonosobo. Waktu tempuh normal adalah sekitar 2 jam lebih sedikit.

Di tengah perjalanan saat sampai di Sumowono hujan deras mengguyur dan memaksa kami untuk berhenti sejenak dan sekaligus sholat dhuhur. Perjalanan dilanjut dan alhamdulillah saat memasuki Temanggung tidak hujan. Sampailah kami di Parakan, namun kali ini cuaca berubah menjadi mendung dan sedikit gerimis. Beberapa menit kemudian kami sampai di basecamp Garung. Basecamp Garung adalah salah satu basecamp gunung Sumbing yang cukup diminati. Sebenarnya ada banyak basecamp gunung Sumbing diantaranya adalah yag saya ketahui ada basecamp Sipetung, basecamp Banaran atau lebih dikenal dengan sebutan Sumbing East Route, ada basecamp Kaliangkrik Magelang, ada basecamp Bowongso Wonosobo.

Basecamp Garung terletak di Kecamatan Kretek Wonosobo. Letak basecamp ini, agak dekat dengan basecamp pendakian gunung Sindoro via Kledung atau bisa dibilang berhadap-hadapan. Setelah registrasi sekitar 15 ribu perorang, kami bersiap untuk memulai pendakian. Start dari basecamp sekitar jam 4 sore dengan kabut yang menyelimuti gunung Sumbing namun berkebalikan dengan gunung Sindoro yang justru cerah. Pendakian pun dimulai, dan target pertama adalah pos 1 yang berjarak 3 km dengan waktu sekitar 1 jam kalau jalan kaki dan 15 menit jika naik ojek. Kami putuskan untuk jalan kaki selain karena menghemat ongkos juga kami mendaki agak santai.

Dari basecamp jalannya sudah diaspal dan sampai di perkampungan penduduk jalannya adalah batu-batuan yang ditata semacam paving gitu lah. Nah disini, kita bisa memilih jalur baru atau jalur lama. Kami memilih jalur lama yang arahnya adalah ke kiri dan mulai merasakan medan yang menanjak. Sepanjang jalur ini adalah kebun penduduk yang waktu itu ditanami kubis, kentang, dan tanaman khas pegunungan lainnya.

Tepat maghrib kami sampai di pos 1. Disini saya masih bisa mendapat sinyal Smartfren, hehe. Jadi total pos pendakian gunung Sumbing via Garung adalah 5 pos. Di pos 1 kami sholat maghrib dan alhamdulillah disana ada mushola. Udara dimngin mulai menghampiri kami namun itu semua tidak membuat kami untuk patah semangat. Sehabis sholat perjalanan dilanjutkan. Senter mulai kami nyalakan dan bersiap untuk menuju pos 2. Waktu yang diperlukan dari pos 1 menuju pos 2 ini adalah sekitar 1 setengah jam. Kami mulai memasuki hutan dan jalannya naik terus. sampailah kami ke pos 2 dan isirahat sejenak untuk minum. Kami pun berlanjut, dengan rencana akan ngecamp di pestan, yakni lokasi ngecamp yang letaknya setelah pos 3. Dari pos 2 menuju pos 3 kita kami melewati hutan dan semak-semak. Alhamdulillah sampailah kami jam 9 malam di pestan. Kami bergegas mendirikan tenda untuk beristirahat. Disana ada kelompok pendaki lain yang sudah mendirikan tenda.

Sekitar jam 10 malam saya mencoba untuk tidur karena memang badan sudah lelah dan mata sudah ngantuk. Malam itu benar-benar dingin, ya, setidaknya bagi saya yang baru pertama kali naik gunung. Karena kedinginan, saya pun tidak ada yang memakai sleeping bag. Malam itu saya sempat punya perasaan menyesal kenapa saya mendaki gunung dan hanya untuk merasakan kedinginan malam-malam. Saya tidak bisa tidur, Afrizal, Maskan, dan Bahtiar pun sama. Semoga segera pagi, itulah keinginan saya malam itu.

Paginya, sekitar jam setengah 6, kami memulai untuk summit. Dengan membawa bekal secukupnya kami mulai meninggalkan tenda. Kira-kira waktu yang akan kami perlukan untuk sampai puncak adalah 3 jam karena kami harus melewati pos 4, pos 5 dan pasar watu. Sekitar jam 8 lebih akhirnya kami sampai ke puncak Buntu, yakni salah satu puncak di Gunung Sumbing. Betapa bersyukurnya saya bisa mendaki sampai puncak melihat pemandangan uyang begitu indah. Puncak mengajarkan kita akan suatu hal yakni kesabaran, kegigihan dan perjuangan untuk mendapatkan sesuatu. Saya juga belajar bahwa dengan mendaki membuat kita tahu betapa kecilnya kita, manusia di dunia ini. subhanallah.

Setelah berfoto dan berpindah dari puncak Buntu ke puncak Cakrawala, kami putuskan untuk turun ke tenda. Saat itu juga mulai kabut sehingga jarak pandang kami agak terbatas. Di tengah perjalanan kami juga menjumpai pendaki yang mau naik ke puncak.

Alhamdulillah, jam 12 kami sampai di tenda dan masak sebentar untuk kemudian bersiapa turun. Setelah packing dan membersihkan sampai, kami turun dengan Afrizal dan Bahtiar di depan, saya dan Maskan di belakang. Kebetulan saat itu lulut kaki saya dan Maskan bermasalah jadi jalannya agak lambat. Namun beruntung kami semua dapat melalui medan dengan lancar. Akhirnya jam 3 sore kami sampai di basecamp.

Kami pun beristirahat sejenak dan membersihkan badan. Sekitar jam 4 sore kami putuskan untuk meninggalkan basecamp menuju Semarang. Ketika sampai di Sumowono, kami berhadapan dengat kabut yang mulai turun dan jarak pandang motor juga berkurang ditambah suasanan yang sepi dan udara yang dingin membuat kami berhati-hati. Sampai di pasar Sumowono sekitar jam 7 dan kami berhenti sebentar. Perjalanan dilanjut, akhirnya kami sampai Ngalian sekitar jam setengah 9. Alhamdulillah kami sampai Ngalian dengan selamat.

Sungguh pengalaman yang menakjubkan, gunung yang awalnya selalu saya lihat darijauh kini bisa saya daki. Alhamdulillah. Terimakasih sudah mau membaca cerita ini, maaf kalo bahasanya agak lebai, wkwk.